Rabu, 22 Mei 2013

Media pembelajaran Matematika

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Matematika sebagai suatu pertanda perkembangan intelegensi manusia,juga merupakan salah satu cara mengembangkan cara berpikir. Oleh karena itu matematika sangat diperlukan baik untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam menghadapi kemajuan IPTEK. Sehingga matematika perlu dibekalkan pada peserta didik sejak usia dini. Namun sebagian besar siswa beranggapan bahwa matematika itu sulit. Sulitnya penguasaan matematika disebabkan oleh beberapa faktor. Diantara faktor-faktor tersebut adalah kualitas masukan peserta didik; anggapan bahwa matematika itu menakutkan; kurangnya penguasaan guru terhadap materi maupun metode pembelajaran; dan kurang tersedianya fasilitas yang diperlukan, dan lain sebagainya.
Dari sejumlah faktor faktor penyebab sulitya penguasaan matematika penulis menggarisbawahi salah satu, yaitu anggapan bahwa matematika itu sulit dan “menakutkan”. Menurut pengalaman dari beberapa pengajar, pengalaman pribadi dan pernyataan dari beberpa siswa, sejumlah topik yang seringkali dirasakan sulit oleh siswa untuk dipelajari dan oleh guru untuk disampaikan adalah: dimensi tiga, trigonometri dan sebagaianya.
Penulis tertarik untuk menelusuri lebih lanjut mengenai trigonometri. Salah satu alasan penelusuran tersebut adalah pengalaman dan pendapat guru bahwa kesulitan pada pokok bahasan ini adalah bagaimana siswa memahami hakikat dari materi yang disampaikan. Beberapa diantara nya adalah istilah sinus, cosinus, dan tangen sebagai materi dasar untuk pengetahuan terigonometri yang lebih luas pada pembelajaran matematika lebih lanjut. Namun, karena penyajian pembelajaran yang bersifat memahami apa yang ada di buku sering kali membuat guru dan siswa terbentur pada pembelajaran yang bersifat hafalan saja, sehingga pembelaran belum berhasil seperti yang diharapkan. Salah satu komponen yang menentukan bagi tercapainya keberhasilan pembelajaran adalah guru. Menurut Gagne dalam tulisan Dwi Nugroho Hidayanto (1999:140) fungsi utama guru adalah merancang, mengelola dan mengevaluasi pembelajaran. Fungsi inilah yang menyebabkan guru mempunyai kedudukan strategis dan menentukan. Kemampuannya merancang pembelajaran, maka proses pembelajaram yang efektif, efisien, menarik, dan hasil pembelajaran yang bermutu tinggi dapat dilakukan dan dicapai oleh setiap guru . Terilhami oleh suatu ungkapan “saya mendengar lalu saya lupa, saya melihat lalu saya ingat, saya berbuat lalu saya mengerti”, maka penulis berasumsi bahwa pemakaian media pembelajaran menjadikan anak tidak hanya mendengar tetapi melihat dan melakukan. Oleh karena itu, penulis memperkenalkan sebuah media pembelajaran pokok bahasan trigonometri yaitu maket sebagai minatur dari bentuk tiga dimensi. Dengan media ini diharapkan materi yang disampaikan lebih bersifat realistik dari hanya sekedar mencatat dan menghafalkannya. Agar pembelajaran dengan menggunakan maket ini dapat berlangsung dengan baik, diperlukan suatu rencana pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan.
Dengan menggunakan maket, siswa termotivasi untuk belajar dan memahami pembelajaran yang sedang berlangsung. Hal tersebut dikarenakan pemahaman para siswa, konsep, prinsip dan pengalaman belajar diintegrasikan dan disinergikan dalam bentuk aktualisasi penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari, yang dibentuk dalam sebuah miniatur maket.
Menurut Bruner (2006:1.12) Proses belajar dibagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap Enaktif(belajar kinse), ikonik(mengubah peristiwa atau benda dalam bentuk bayangan mental) serta tahap simbolik (mengutarakan bayangan mental dalam bentuk simbul.Dengan demikian pembelajaran dengan menggunakan maket dapat membimbing siswa melalui tahapan tersebut. Pembelajaran dengan menggunakan maket ini dirancang sedemikian hingga, supaya siswa aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Hal ini diupayakan dapat merubah orientasi siswa dari belajar menjadi pembelajar, serta lebih menekankan pada pembelajaran (learning) dari pada pengajaran (teaching). Penggunakan maket pada trigometri sebagai pembelajaran berorientasi PAKEM juga sangat sesuai dengan empat pilar pendidikan yang dinyatakan oleh UNESCO yakni Learning to know, learning to do, learning to be dan learing ti life together. Hal ini dikarenakan selama proses pembelajaran terbentuk pengetahuan yang disampaikan oleh guru dan berdasar pengalaman yang mereka peroleh, kemudian dapat melakukan tugasnya dalam menggunakan maket, menjadi ahli-ahli dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan serta dapat bekerjasama dan saling menghargai dalam kelompoknya. Dengan demikian pembelajaran dengan menggunakan maket ini sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada kerjasama dan kolaboratif para siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran matematika dengan menggunakan maket yang berorientasi PAKEM ini merupakan suatu inovasi agar pembelajaran yang selama ini abstrak menjadi lebih real. Selama ini pembelajaran trigonometri hanya bersifat menjelaskan materi dan mengerjakan soal, sehingga pembelajaran bersifat rutinitas saja, jika ada yang melakukan praktek itupun lebih menyita waktu karena siswa harus keluar dan memperkirakan tinggi dan jarak dari benda-benda di luar yang umumnya sulit untuk dikondisikan. Dengan demikian pembelajaran dengan menggunakan maket ini dapat dijadikan suatu inovasi bagi pembelajaran selanjutnya.

B. Ruang Lingkup
Berdasarkan latar belakang di atas, secara umum permasalahan utama dalam kegiatan yang penulis lakukan adalah: “Bagaimana Menggunakan maket sebagai media pembelajaran trigonometri berorientasi PAKEM pada kelas X SMA”

C. Tujuan dan Manfaat yang Dilakukan
1. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan ini adalah:
a. Mengoptimalkan kemampuan guru membuat rencana pembelajaran matematika yang berorientasi PAKEM dengan menggunakan maket .
b. Mengoptimalkan kemampuan guru meningkatkan penguasaan konsep, kreatifitas, aktivitas siswa pada matematika dengan menggunakan maket
c. Untuk memperoleh data objektif dan faktual tentang penguasaan konsep siswa pada materi trigonometri dengan menggunakan maket
2. Manfaat
Dari segi perencanaan, pelaksanaan dan hasil kegiatan ini diperoleh berbagai manfaat yang sangat berharga baik bagi penulis maupun bagi sekolah sebagai tempat pelaksanaankegiatan. Dalam hal ini kegunaan kegiatan diperjelas lagi menjadi:
a. Bagi Penulis : Menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman dalam mengatasi masalah pembelajaran (khususnya materi trigonometri) sehingga penulis dapat mengembangkan hal tersebut untuk mengatasi permasalahan mata materi lainnya.

b. Bagi Kepala Sekolah dan Guru : Dengan adanya kegiatan ini diharapkan kepala sekolah dan guru lainnya terdorong untuk mensosialisasikan dan menggunakan pembelajaran berorientasi PAKEM ini untuk meningkatkan kinerja guru.
c. Bagi Peserta didik : Mendapat kesan bahwa pembelajaran matematika itu menyenangkan, meningkatkan penguasaan konsep, kreativitas dan aktivitas siswa yang nantinya akan berimbas pula pada peningkatan prestasi hasil belajar siswa serta kualitas pembelajaran matematika pada umumnya.

D. Landasan Teori

1. Pembelajaran Matematika
Menurut R. Soedjadi dan Masriyah (dalam Suyitno, 2004:52) meskipun terdapat berbagai definisi matematika yang tampak berlainan, tetapi dapat ditarik ciri-ciri yang sama yakni:
1) matematika mempunyai obyek kajian yang abstrak,
2) matematika mendasarkan diri pada kesepakatan-kesepakatan,
3) matematika sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif, dan
4) matematika dijiwai dengan kebenaran konsistensi.

Dengan demikian pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada siswanya yang didalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi,minat, bakat, dan kebutuhan siswa tentang matematika yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa dalam
mempelajari matematika tersebut (Suyitno, 2004:2). Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di pendidikan dasar dan menengah. Matematika sekolah tersebut terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna :
1) Menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan
2) Membentuk pribadi siswa
3) Berpandu pada perkembangan IPTEK



Menurut Suyitno (2004:52), obyek matematika ada 2, yaitu :
1) Objek langsung matematika adalah sebagai berikut:
• Fakta, yakni konvensi-konvensi sembarang dalam matematika.
• Konsep, adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakanklasifikasi atau penggolongan. Contoh: konsep ”segitiga” misalnya,adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan apakah suatu bangun geometri, datar, termasuk segitiga atau tidak.
• Prinsip, adalah pola hubungan fungsional diantara konsep-konsep. Salah satu wujud prinsip adalah teorema.
• Skil, adalah keterampilan mental untuk menjalankan prosedur atau algoritma guna menyelesaikan suatu masalah matematika.
2) Obyek tidak langsung matematika ada 7 macam yaitu:
1) bukti teorema
2) pemecahan masalah
3) transfer belajar
4) pengembangan intelektual,
5) kerja individu
6) kerja kelompok
7) sikap positif.

2. Maket sebagai media dalam pembelajaran Trigonometri
Maket berdasarkan Kamus besar bahasa Indonesia berarti bentuk tiruan tiga dimensi dan skala kecil yang terbuat dari kayu, kertas, tanah liat dan sebagainya (1994:628). Maket dalam pembelajaran trigonometri merupakan tiruan dari rumah, papan reklame serta pohon yang digunakan untuk menerapkan konsep perbandingan trigonometri dalam segitiga siku-siku. Maket tesebut dapat dipajangkan atau digunakan untuk keperluan lain, sebagai media pembelajaran.
Media pembelajaran sebagai salah satu alat bantu mengajar harus dapat mempertinggi proses belajar siswa yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Beberapa alasan untuk hal tersebut diantaranya adalah manfaat media pembelajaran dalam proses belajar. Manfaat media pembelajaran dalam pembelajaran antara lain :
1) Pengajaran akan menarik perhatian siswa sehingga akan menumbuhkan motivasi belajar siswa
2) bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran lebih baik
3) Metode pembelajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran
4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.

Agar media pembelajaran itu efektif, maka penggunaan media harus direncanakan dan dirancang secara sitematik. Masalahnya, ada beberapa pola penggunaan media pembelajaran sebagaimana diutarakan (Wibawa: 1991: 75-78) yaitu pola penggunaan media untuk tatanan (1) di dalam kelas, dan (2) di luar kelas. Pada pola penggunaan di dalam kelas, media itu digunakan dengan tujuan untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Kerana itu dalam merencanakan penggunaan media guru harus mempertimbangkan tujuan pembelajaran.

Materi pembelajaran dan strategi pembelajaran.

Setelah mengetahui pola penggunaan media, maka langkah selanjutnya adalah prosedur penggunaan media pembelajaran. Ada tiga langkah pokok dalam prosedur penggunaan media pembelajaran yang perlu diikuti (dikemukakan oleh Wibawa: 1991: 79-80) yaitu sebagai berikut:
1) Persiapan
Langkah ini dilakukan sebelum menggunakan media. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adar penggunaan media dapat dipersiapkan dengan baik, yaitu: (1) pelajari buku petunjuk, kemudian ikuti petunjuk didalamnya, (2) siapkan peralatan yang diperlukan untuk menggunakan media yang dimaksud, (3) tetapkan, apakah media tersebut digunakan secara individual ataukah kelompok? Yakinkan bahwa semua peserta sudah mengerti tujuan yang hendak dicapai , (4) atur tatanannya, agar peserta dapat melihat, mendengar pesan-pesan pembelajaran dengan baik.
2) Pelaksanaan (penyajian, penerimaan)
Satu hak yang perlu diperhatikan selama menggunakan media pembelajaran yaitu hindari kejadian-kejadian yang dapat mengganggu ketenangan, perhatian, dan konsentrasi peserta.
3) Tindak lanjut
Kegiatan ini bertujuan untuk memantapkan pemahaman peserta terhadap pokok-pokok materi atau pesan pembelajaran yang hendak disampaikan melalui media tersebut. Selanjutnya pada beberapa media yang dilengkapi dengan alat evaluasi, amaka langkah ini dimaksudkan pula untuk melihat tercapai atau tidaknya tujuan yang ditetapkan. Kegiatan tindak lanjut ini umumnya dotandai dengan kegiatan diskusi, tes, dan observasi.
3. Pembelajaran Matematika yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan
Pembelajaran matematika yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) pada hakikatnya adalah suatu strategi pembelajaran terpadu yang , yang menggunakan strategi, metode, pendekatan dan teknik pengajaran terpadu sedemikian rupa baik prosedur maupun tujuan pembelajarannya dapat terlaksana dan tercapai dengan baik. (Setiawan,2004:4) PAKEM merupakan salah satu model pembelajaran yang menerapkan konsep paradigma baru dalam psikologi belajar. Pendekatan ini lebih menekankan pada prinsip-prinsip humanisme dalam membentuk perilaku anak dan menerapkan prinsip psikologi kognitif.
a. Pembelajaran Aktif dalam matematika
Keaktifan dalam pembelajaran dapat berupa keaktifan mental maupun keaktifan fisik. Sejalan dengan faham konstruktifisme, mengajar tidak dapat disamakan dengan memasukan air ke dalam gelas. Menurut Vigotsky (dalam Setiawan,2004:8) Konsruktifisme berlandaskan pada dua hipotesis yaitu:
a) Pengetahuan dibangun (dikonstruksi) secara aktif oleh dan dalam diri subyek belajar, bukan secara fasif diterima dari lingkungan belajar.
b) Peranjakan dalam memahami suatu pengetahuan merupakan proses adaftif, yang mengorganisasi pengalaman si pebelajar dalam interaksi dengan lingkungannya Berangkat dari pandangan tersebut maka pemahaman siswa dalam matematika (termasuk trigonometri) dapat diperoleh jika siswa mengkonstruksi pengetahuan secara aktif lewat pengalaman . Dengan demikian pada saat pembelajaran siswa haruslah berpartisifasi aktif sedemikian sehingga kegiatan siswa dalam belajar lebih dominan dari kegiatan guru dalam mengajar.
b. Pelajaran Matematika yang Kreatif
Menurut Setiawan (2004:6)” Pembelajaran kreatif penekanannya bagaimana guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran matematika ini mampu memfasilitasi proses belajar mengajar sehingga memberi suasana yang kondusif untuk siswa belajar”. Dengan demikian seorang guru dituntut untuk dapat merancang suatu pembelajaran yang dapat memotivasi siswa menjadi kreatif, sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.
c. Pembelajaran Matematika yang Efektif
1) Resep Pembelajaran Efektif
Menurut Kanold (dalam Setiawan,2004) resep pembelajaran efektif meliputi:
a) Perencanaaan Membuat rencana ( dirumah sebelum mengajar) sehingga dapat:
1. Memulai pertemuan dengan tinjauan singkat atau dengan masalah pembuka selera.
2. Memulai pembelajaran dengan pemberitahuan tujuan dan alasan secara singkat.
3. Menyajikan bahan pelajaran baru sedikit demi sedikit, dan diantara bagian – bagian penyajian yang sedikit itu memberikan kesempatan kepada siswa memahami, mencobakan, bertanya dan sebagainya.
4. Memberikan petunjuk yang rinci untuk setiap petugas bagi siswa.
5. Memeriksa pemahaman siswa dengan jalan mengajaukan banyak pertanyaan dan memberikan latihan yang cukup banyak.
6. Membolehkan siswa kerja sama sampai pada tingkat siswa dapat mengerjakan tugas secara mandiri.
b) Penyajian Mengimplemantasikan rencana yang telah dibuat dengan :
1. Pemeriksaan pemahaman oleh siswa dilakukan dengan pemberian tugas kepada siswa. Guru memberikan penjelasan pembuka jalan, kemudian siswa menyelesaiakan tugas itu, lalu guru berkeliling memeriksa hasil pembelajaran, memberi bantuan, siswa membuat ringkasan proses langkah – langkah penyelesaian tugas tersebut.
2. Pertanyaan diberikan kepada seluruh siswa; siswa diberi waktu cukup untuk menemukan jawaban; baru kemudian slaah seorang siswa ditunjuk secara acaka untuk menjawab pertanyaan tadi; akhirnya jawaban ditawarkan kepada siswa lain untuk menilai kebenaran atau ketepatannya.
3. Pada pembelajaran tentang konsep atau prosedur, siswa mengerjakan latihan terbimbing. Guru pembimbing dengan menugasi siswa bekerja berkelompok kecil atau berpasangan untuk merumuskan jawaban atas latihan itu, menyusun strategi yang diperlukan, dan sebagainya.
c) Penutup pertemuan
• Jika sisa waktu tinggal sedikit, digunakan untuk membuat ringkasan dari pelajaran yang baru selesai.
• Jika sisa waktu agak banyak, digunakan untuk membicarakan langkah awal dari penyelesaian tugas yang harus dikerjakan di rumah.

2) Cooperatif learning sebagai suatu pendekatan dalam Strategi pembelajaran Efektif
Pembelajaran kooperatif atau pembelajaran gotong royong adalah salah satu jenis belajar kelompok , dengan kekhususan sebagai berikut:
i. Kelompok terdiria atas anggota yang heterogen (kemampuab, jenis kelamin, etnik dan sebagainya)
ii. Ada ketergantungan yang positif di antara anggota-anggota kelompok, karena setiap anggota kelompok bertangguang jawab atas keberhasilan melaksanakan tugas kelompok
iii. Kepemimpinan dipegang bersama, tetapi ada pembagian tugas selain kepemimpinan
iv. Guru mengamati kerja kelompok dan melakukan intervensi jika perlu
v. Setiap anggota kelompok harus siap menyajikan hasil kerja kelompok. (Setiawan,2004:11)
d. Pembelajaran Matematika yang menyenangkan
Salah satu hambatan dalam pembelajaran matematika adalah banyak siswa yang tidak tertarik pada matematika itu sendiri, sudah barang tentu termasuk di dalamnya trigonometri. Untuk mengatasi hal tersebut salah satunya adalah dengan memberikan motivasi kepada siswa, sehingga pembelajaran itu menyenangkan.

E. Pengertian Dasar
Suharsimi Arikunto (1996: 60) berpendapat bahwa: “Anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak penelitian”. Dalam kegiatan ini penulis dapat mengemukakan anggapan dasar sebagai berikut:
a. Maket yang dimaksud penulis adalah maket yaang dibuat untuk keperluan pembelajaran trigonometri.
b. Pembelajaran matematika akan berhasil dengan baik apabila guru memahami perkembangan intelektual siswa

BAB II
PROGRAM PENANGGULANGAN

A. Rumusan Kegiatan
Masalah kesulitan guru dalam mendesain pembelajaran menyenangkan bagi siswa tentang trigonometri di SMA akan diatasi dengan melakukan Inovasi Pembelajaran. Pada inovasi ini guru matematika sebagai inovator menemukan dan melakukan kegiatan reflektif dan berdaur sehingga guru benar-benar memiliki kemampuan yang optimal dalam hal:
1. Membuat alat peraga model maket dalam pembelajaran matematika untuk mendesain pembelajaran yang menyenangkan pada topik trigonometri;.
2. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran trigonometri di kelas X SMA.
3. Membuat instrumen untuk menilai Penguasaan Konsep dan aktivitas siswa pada trigonometri;.
4. Membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk mengembangkan Penguasaan konsep dan aktivitas siswa pada trigonometri.
5. Mengelola pembelajaran dengan menggunakan media maket.

Media pembelajaran berbentuk maket ini terbuat dari stirofoam, kayu, dan lem kayu. Kemudian dibentuk berbagai model rumah, pohon dan papan reklame. Untuk lebih jelas lagi model alat peraga yang dimaksud dilihat dari segi alat/bahan, cara pembuatan dan cara penggunaan adalah sebagai berikut berikut:
a. Alat dan Bahan
• Gunting / Cutter
• Penggaris
• Pensil/pulpen
• Kertas Tebal 4 lembar ukuran 30x40 cm
• Stiro foam
• 1 pak kayu untuk es krim
• Lem Kayu

b. Cara Membuat
Membuat miniatur rumah dari kayu eskrim dengan menggunakan lem kayu
Membuat miniatur papan reklame dengan menggunakan kayu eskrim dengan menggunakan lem kayu
membuat miniatur pohon
Menggabungkan 2 lembar stirofoam hingga ketebalan 3 cm kemudian lekatkan pada karton tebal
Memasangkan miniatur yang telah dibuat di atas stirofoam tebal.
Maket siap untuk digunakan.

c. Cara Menggunakan
Maket yang telah disusun disimpan di depan kelas.
Masing-masing kelompok mengambil maket.
Setiap kelompok mengerjakan soal yang tersedia pada maket.
Model pada maket kemudian digambar dalam lembar kerja yang telah dimiliki siswa, kemudian menghitung apa yang ditanyakan dengan memanipulasi angka menggunakan perbandingan trigonometri.
Masing-masing kelompok secara perwakilan melaporkan hasil kerja kelompok secara bergiliran.

B. Proses Pelaksanaan Pembelajaran
Proses pelaksanaan kegiatan pembelajaran adalah melaksanakan apa-apa yang telah dipersiapkan atau direncanakan pada tahap perencanaan tindakan yang telah dibuat sebelumnya.
Pelaksanaan penggunaan media maket dalam materi trigonometri secara umum adalah sebagai berikut:
a) Mengondisikan Kelas : Kelas dipersiapkan dengan cara ditata supaya nyaman untuk belajar, tempat duduk dikondisikan sedemikian rupa untuk memudahkan siswa duduk untuk membuat kelompok yang terdiri dari 3 sampai dengan 4 orang per kelompoknya. Buku penunjang, hand out dan media pembelajaran dipersiapkan, guru peneliti dan observer sudah siap untuk memulai kegiatan pembelajaran.
b) Pelaksanaan:
1) Kegiatan Awal
Kegiatan awal yang dilakukan oleh guru adalah memusatkan perhatian siswa untuk belajar. Guru mengucapkan salam dan siswa menjawabnya. Kemudian menyapa siswa dengan menanyakan keadaan siswa “Bagaimana kedaanmu sekarang?” siswa serempak menjawab “Alhamdulillah baik”. Kemudian guru menyampaikan Standar kompetensi, kompetensi dasar serta tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Setelah itu mengadakan apersepsi dengan cara menggali informasi prasyarat siswa dengan mengajukan pertanyaan “Apakah kalian masih ingat pada phitagoras?” siswa secara klasikal menjawab Ingat. Bagus guru memberikan pujian. Selanjutnya guru memberi motivasi siswa dengan menyebutkan berbagai penggunaan trigonometri dan mengulas sejarahnya.
2) Kegiatan Inti
Kegiatan inti diawali dengan penjelasan materi secara singkat. Siswa kemudian membentuk kelompok dengan berhitung mulai satu sampai delapan dan berulang hingga selesai. Siswa yang bernomor sama kemudian membentuk kelompok dan duduk secara kelompok.

Guru membagikan maket dan LKS, setiap kelompok diberi satu maket dan LKS dengan tujuan agar mudah dalam pengerjaannya. Guru menjelaskan cara melaksanakan kerja kelompok sesuai dengan yang tertera pada langkah kerja LKS. Langkah awal siswa dalam kelompok mengamati maket yang diatasnya terdapat soal. Siswa secara berkelompok menyusun kegiatan yang dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Guru membimbing siswa dalam kerja kelompok. Siswa dalam kelompok nampak senang dan beraktivitas tinggi dengan pembelajaran menggunakan maket, karena mengasikkan sesuai dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, tetapi pengalaman tersebut ini ada kaitannya dengan pembelajaran konsep trigonometri. Setelah semua kelompok selesai guru kemudian mempersilahkan dua kelompok untuk mempresentasikan hasil pekerjaan di depan kelas.
3) Kegiatan Akhir
Dengan bimbingan guru siswa menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran. Kegiatan berikutnya pelaksanaan pos tes. Guru membagikan lembar evaluasi (tes) kepada setiap siswa untuk mengukur sejauhmana siswa dapat menguasai konsep yang telah dipelajari. Pada saat melaksanakan tes siswa tidak diperkenankan berkerjasama. Sebagai tindakan terakhir guru memberikan tugas atau PR yang bersifat individu.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan proses pembelajaran trigonometri dengan menggunakan media maket penulis berharap dapat meningkatkan keberhasilan siswa dalam penguasaan konsep. Hal tersebut dapat dicapai jika guru dapat mengelola pembelajaran baik dari segi metode, pendekatan maupun penggunaan media pembelajaran.

B. Saran
Disini penulis menyampaikan saran yaitu Penggunaan media maket perlu diujicobakan pada topik-tipik lain yang memungkinkan baik pada pelajaran matematika, maupun pada pelajaran lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar